Kamis, 5 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
brkbima.orgbrkbima.org
brkbima.org - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Tiap Malam Anak Rewel Saat Belajar? Waspadai 5 Tan...

Tiap Malam Anak Rewel Saat Belajar? Waspadai 5 Tanda Ini, Parents

Anak yang selalu rewel saat belajar bisa jadi sedang memberi sinyal masalah. Kenali tanda-tandanya sejak awal sebelum makin parah.

Tiap Malam Anak Rewel Saat Belajar? Waspadai 5 Tanda Ini, Parents

Dulu gue pikir, anak yang males belajar itu ya tinggal dibujuk pakai iming-iming es krim atau waktu main HP tambahan. Simpel. Ternyata setelah punya keponakan yang baru masuk SD dan tinggal serumah sama gue selama beberapa bulan, gue sadar: nggak sesederhana itu. Ada kalanya dia nangis cuma gara-gara disuruh buka buku, padahal sorenya masih ketawa-ketawa main sepeda. Nah, dari situ gue mulai kepo — apa sih sebenarnya yang bikin anak jadi rewel tiap kali belajar?

Kalau kamu orang tua baru, mungkin kamu juga lagi di fase ini. Anak masih kecil, belum terlalu banyak tuntutan sekolah, tapi kamu sudah mulai kepikiran soal masa depannya. Tenang, kamu nggak sendirian. Yang penting sekarang bukan buru-buru nyuruh anak jadi juara kelas, tapi peka sama tanda-tanda awal yang sering diabaikan. Karena biasanya, masalah belajar itu nggak muncul tiba-tiba pas anak sudah besar. Tandanya sudah ada sejak kecil, cuma kita yang kadang nggak ngeh.

Baca juga: Cek 5 Tanda Ini Sebelum Belajar Sambil Jalanin Usaha Kecil

Kenapa Orang Tua Baru Perlu Waspada Sejak Awal?

Gue pernah ngobrol sama seorang guru TK yang sudah ngajar belasan tahun. Dia bilang satu hal yang nempel banget di kepala gue: "Anak yang nanti susah belajar di SD, biasanya bukan karena bodoh. Tapi karena dari kecil dia nggak pernah diajak menikmati proses belajar."

Nah, ini yang sering kelewat. Orang tua baru — termasuk gue dulu — sering fokus ke hasil: bisa baca belum? bisa hitung belum? Padahal yang lebih penting adalah bagaimana anak merespons proses belajarnya. Kalau sejak awal anak sudah menunjukkan tanda-tanda nggak nyaman, jangan dipaksa. Cari tahu dulu penyebabnya. Kalau dibiarkan, anak bisa kapok belajar sebelum benar-benar mulai.

Belajar yang dipaksakan dari kecil itu ibarat menanam benih sambil terus mencabut tanahnya. Nggak akan tumbuh.

Makanya, kenali tanda-tandanya. Berikut beberapa yang menurut gue paling sering muncul dan paling sering diabaikan.

1. Anak Menghindar Setiap Kali Diajak Belajar

Ini tanda paling klasik, tapi justru paling sering dianggap wajar. Anak diajak baca buku, dia kabur. Diajak mengenal huruf, dia pura-pura ngantuk. Diajak menghitung pakai jari, dia malah lari main.

Kalau ini terjadi sesekali, masih normal. Anak kan memang makhluk yang energik. Tapi kalau hampir setiap kali diajak belajar dia menolak dengan cara yang sama, itu sinyal. Bisa jadi cara belajarnya terlalu kaku, terlalu lama, atau memang nggak sesuai dengan minatnya saat itu.

Coba deh, ubah pendekatannya. Jangan langsung "ayo belajar", tapi "ayo main tebak huruf". Anak kecil nggak butuh kata "belajar" — mereka butuh rasa seru. Kalau kamu sebagai orang tua baru sudah bisa membingkai belajar sebagai permainan, biasanya resistensi anak berkurang drastis.

2. Mudah Frustrasi Saat Nggak Bisa

Anak yang gampang nangis, gampang marah, atau langsung menyerah begitu ketemu soal yang susah — ini juga tanda yang perlu diwaspadai. Bukan berarti anaknya manja, lho. Bisa jadi dia belum punya toleransi terhadap kegagalan.

Ini penting banget buat orang tua baru. Anak yang dari kecil dibiasakan harus selalu benar, selalu bisa, selalu dipuji — begitu ketemu tantangan sedikit, dia langsung runtuh. Nah, di sinilah peran kita. Jangan cuma memuji hasil, tapi puji usahanya. "Wah, kamu sudah coba tiga kali, hebat!" itu jauh lebih berharga daripada "Pintar! Jawabannya benar semua."

Gue pernah lihat sendiri keponakan gue nangis cuma karena salah nulis huruf. Bukan karena dimarahi, tapi karena dia merasa gagal. Setelah gue bilang "salah itu bagian dari belajar, coba lagi yuk", dia pelan-pelan mau mencoba lagi. Kecil, tapi efeknya panjang.

3. Waktu Belajar Selalu Berakhir dengan Drama

Ini tanda yang paling gampang dikenali tapi paling sering diabaikan: setiap sesi belajar selalu berakhir dengan tangis, ngambek, atau perang mulut. Kalau sudah begini, ada yang salah dengan cara-nya, bukan anaknya.

Coba refleksi sebentar. Berapa lama kamu menyuruh anak duduk diam? Apakah kamu menggunakan nada yang menekan? Apakah kamu memaksakan target yang belum sesuai usia? Orang tua baru sering nggak sadar bahwa ekspektasinya terlalu tinggi untuk anak seusia balita atau awal SD.

Anak usia 4-5 tahun fokusnya cuma sekitar 10-15 menit. Kalau kamu paksa 45 menit, ya jelas drama. Sesuaikan durasi dengan usia, dan selalu akhiri sesi belajar dengan hal yang menyenangkan. Biar anak ingat belajar itu bukan sesuatu yang bikin stres.

4. Anak Lebih Suka Menyendiri dan Menutup Diri

Ini tanda yang lebih halus dan sering lolos dari radar orang tua baru. Anak yang tiba-tiba jadi pendiam, nggak mau cerita soal sekolah, atau menghindari topik belajar — bisa jadi dia sedang menyimpan rasa nggak nyaman.

Mungkin dia pernah diejek teman karena belum bisa baca. Mungkin dia merasa bodoh karena dibanding-bandingkan dengan saudara atau teman sebaya. Anak kecil bisa menyimpan luka seperti itu, dan efeknya bisa lama.

Kalau kamu melihat perubahan perilaku seperti ini, jangan langsung interogasi. Coba dekati pelan-pelan, ajak ngobrol sambil main, dan dengarkan tanpa menghakimi. Kadang yang dibutuhkan anak bukan les tambahan, tapi rasa aman bahwa dia diterima apa adanya.

Sinyal Kecil yang Sering Diabaikan

Selain empat tanda di atas, ada beberapa hal kecil yang juga patut dicermati:

  • Anak sering mengeluh sakit perut atau pusing tepat sebelum waktu belajar
  • Anak selalu menunda, padahal sebelumnya semangat
  • Anak jadi rewel soal makanan atau tidur saat hari sekolah
  • Anak menolak bercerita apa pun tentang kegiatan belajarnya

Ini bukan berarti anak kamu bermasalah. Justru sebaliknya — anak sedang mengomunikasikan sesuatu dengan caranya sendiri. Tugas kita sebagai orang tua baru adalah membaca sinyal itu sebelum jadi masalah besar.

5. Kamu Sendiri Merasa Tertekan Setiap Sesi Belajar

Nah, ini yang paling jarang dibahas. Tanda bahaya itu nggak cuma datang dari anak, tapi juga dari kamu sebagai orang tua. Kalau setiap kali mau ngajarin anak kamu sudah merasa cemas, kesal, atau bahkan malas duluan — itu tanda bahwa pola belajar kalian perlu diubah.

Gue pernah di posisi ini waktu bantu keponakan gue belajar. Gue merasa harus "berhasil" bikin dia bisa baca dalam seminggu. Hasilnya? Gue jadi gampang marah, dia jadi gampang nangis. Nggak sehat.

Ingat, kamu orang tua baru. Nggak ada yang mengharapkan kamu jadi guru sempurna. Yang penting adalah konsistensi dan suasana yang nyaman. Kalau kamu tenang, anak juga lebih tenang. Kalau kamu stres, anak menyerap energi itu.

Jadi, sebelum menyalahkan anak yang "susah diatur", cek dulu diri sendiri. Sudah cukup sabar belum? Sudah sesuai usia anak belum targetnya? Sudah cukup sering memberi apresiasi belum? Jawaban jujur atas pertanyaan-pertanyaan ini biasanya membuka mata.

Apa yang Bisa Dilakukan Mulai Sekarang?

Kalau kamu menemukan beberapa tanda di atas, jangan panik. Ini bukan akhir dunia. Justru bagus kamu sadar lebih awal, karena anak masih di fase yang sangat mudah dibentuk.

Mulai dari hal kecil: kurangi durasi belajar formal, perbanyak belajar lewat permainan, dan ciptakan rutinitas yang menyenangkan. Anak yang merasa aman dan senang biasanya belajar lebih cepat daripada anak yang ditekan.

Dan satu lagi — jangan bandingkan anak kamu dengan anak tetangga, sepupu, atau anak teman di media sosial. Setiap anak punya ritmenya sendiri. Tugas kita bukan mempercepat, tapi menemani. Karena pada akhirnya, pendidikan yang efektif itu bukan tentang seberapa cepat anak bisa, tapi seberapa lama dia mau terus belajar tanpa kehilangan rasa ingin tahu.

Kalau kamu mulai peka dari sekarang, tanda-tanda kecil itu nggak akan berkembang jadi masalah besar nanti. Dan percaya deh, jadi orang tua baru yang peka itu jauh lebih berharga daripada jadi orang tua yang selalu benar.

Tags: pendidikan anak cara belajar efektif orang tua baru psikologi anak belajar menyenangkan